Medan – Tinggal seorang diri sering kali dipandang sebagai tanda bahwa seseorang tidak memiliki orang lain yang mendampingi. Padahal, tinggal sendiri tidak selalu berarti benar-benar sendirian. Bagi penyandang disabilitas, dukungan keluarga dan lingkungan tetap dapat menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama ketika dukungan tersebut diberikan sesuai kebutuhan tanpa menghilangkan kemandirian.
Hal ini dapat dilihat dari kehidupan seorang penyandang disabilitas yang saya temuin,ia telah mengalami kondisi kesehatan mental sejak masa usia kanak – kanak. Kondisinya menjadi lebih berat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Saat ini, ia tinggal seorang diri di dalam sebuah rumah yang ia tempati, sementara anggota keluarganya tinggal di rumah yang berbeda tetapi masih berada di sekitar tempat tinggalnya.
Meskipun tinggal sendiri, bukan berarti seluruh aktivitasnya harus dilakukan oleh keluarga. Berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga, ia masih mampu melakukan berbagai kegiatan sehari-hari secara mandiri, seperti mandi, makan, tidur, membersihkan rumah, mencuci pakaian, serta melakukan pekerjaan sederhana ketika diminta. Ia juga masih dapat menyampaikan kepada keluarga apabila terjadi sesuatu.
Kemampuan tersebut penting untuk diperhatikan. Sebab, mandiri bukan berarti seseorang tidak membutuhkan dukungan sama sekali. Kemandirian justru dapat tetap berjalan ketika seseorang mendapatkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan dan tidak mengambil alih hal-hal yang masih mampu dilakukannya.
Dukungan Bukan Berarti Mengambil Alih
Dalam memberikan dukungan, keluarga perlu mengetahui batas kemampuan dan kebutuhan. Hal yang masih mampu dilakukan sendiri sebaiknya tidak langsung diambil alih oleh orang lain.
Misalnya, ketika ia masih mampu mandi, makan, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian sendiri, keluarga tidak perlu melakukan semua kegiatan tersebut untuknya. Keluarga cukup memastikan bahwa ia dapat melakukannya dengan aman dan membantu apabila suatu saat mengalami kesulitan.
Namun, terdapat beberapa hal yang memang membutuhkan perhatian lebih. Salah satunya berkaitan dengan makanan. Karena terdapat makanan tertentu yang sulit dikunyah dengan baik, keluarga dapat membantu dengan menyiapkan makanan yang lebih mudah dikunyah, mengingatkan untuk makan dengan baik, serta memperhatikan apabila ia mengalami kesulitan ketika makan.
Dalam berkomunikasi, pengucapannya terkadang kurang jelas, tetapi pada umumnya masih dapat dipahami. Karena itu, dukungan sederhana yang dapat diberikan adalah mendengarkan dengan sabar. Jika ada ucapan yang kurang dipahami, keluarga dapat meminta penjelasan kembali tanpa menyalahkan atau mempermalukannya.
Karena ia tinggal sendiri, keluarga juga dapat melakukan kunjungan atau pengecekan secara berkala. Tidak harus selalu datang untuk melakukan pekerjaan rumah, tetapi dapat sekadar menanyakan keadaan, memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, dan melihat apakah ada hal yang sedang membutuhkan bantuan.
Dukungan lainnya adalah memastikan ia mengetahui siapa yang dapat dihubungi ketika membutuhkan pertolongan. Keluarga dapat memberikan nomor telepon anggota keluarga yang mudah dihubungi dan membuat kesepakatan mengenai siapa yang akan datang apabila terjadi keadaan yang membutuhkan bantuan.
Selain kebutuhan sehari-hari, aktivitas yang disukai seperti bernyanyi dan berjoget juga perlu diberikan ruang. Selama dilakukan di lingkungan yang aman, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari keseharian dan memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengekspresikan diri.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa dukungan tidak selalu berarti melakukan sesuatu untuk orang lain. Dukungan juga dapat berupa menyiapkan, mengingatkan, memantau, mendengarkan, menyediakan akses, dan hadir ketika dibutuhkan.
Melihat Kemampuan dan Kebutuhan Secara Bersamaan
Dalam pekerjaan sosial, kondisi seseorang tidak cukup dilihat hanya dari keterbatasannya. Kemampuan yang masih dimiliki juga perlu diperhatikan. Dari sana dapat diketahui dukungan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan.
Pada kasus ini, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari menjadi salah satu kekuatan yang perlu dipertahankan. Sementara itu, kebutuhan terhadap pemantauan makanan, komunikasi, dan dukungan keluarga ketika terjadi masalah menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Sebelum menentukan bentuk bantuan, penting untuk melihat kondisi secara menyeluruh. Apa yang dapat dilakukan sendiri? Apa yang membutuhkan pemantauan? Apa yang membutuhkan bantuan langsung? Dan dalam situasi seperti apa bantuan tersebut diperlukan?.Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu keluarga maupun pekerja sosial agar bantuan yang diberikan tidak terlalu sedikit, tetapi juga tidak berlebihan.
Perencanaan Dimulai dari Kebutuhan
Praktik pekerjaan sosial tidak hanya berbicara tentang memberikan bantuan. Ada proses untuk memahami masalah, melihat kebutuhan dan kemampuan, menentukan tujuan, menyusun bentuk dukungan, kemudian melihat kembali apakah dukungan tersebut sudah sesuai.
Dalam kasus ini, keluarga menjadi salah satu sumber dukungan yang paling dekat. Lingkungan tempat tinggal juga perlu diperhatikan karena seseorang yang tinggal sendiri tetap membutuhkan lingkungan yang aman dan mendukung.
Tujuan perencanaan bukan membuat orang tersebut sepenuhnya bergantung kepada keluarga. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah mempertahankan kemandirian yang sudah dimiliki sekaligus memastikan bantuan tersedia ketika benar-benar dibutuhkan.
Bentuk dukungannya dapat berupa pemantauan kondisi secara berkala, komunikasi dengan keluarga, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pemberian ruang untuk melakukan aktivitas secara mandiri, serta kesiapan memberikan bantuan ketika muncul masalah.
Pekerja sosial dapat membantu keluarga memahami kebutuhan, kemampuan, serta sumber dukungan yang tersedia. Dengan demikian, perencanaan tidak hanya berfokus pada masalah, tetapi juga pada potensi yang dimiliki.
Keluarga sebagai Tempat Dukungan
Keluarga memiliki peran penting, tetapi peran tersebut bukan berarti harus mengontrol seluruh kehidupan seseorang. Keluarga dapat menjadi tempat untuk mendapatkan rasa aman, tempat bertanya, dan tempat meminta bantuan ketika diperlukan.
Dalam kasus ini, meskipun tinggal di rumah yang berbeda, keberadaan keluarga yang masih berada di sekitar tempat tinggal memberikan peluang bagi adanya dukungan yang lebih mudah ketika dibutuhkan.
Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga tidak selalu harus berbentuk tinggal bersama. Yang lebih penting adalah adanya hubungan, komunikasi, perhatian, dan kesiapan untuk membantu.
Keluarga juga perlu memahami bahwa membantu seseorang tidak berarti mengambil alih semua aktivitasnya. Ada saatnya keluarga harus hadir dan membantu, tetapi ada pula saatnya keluarga perlu memberikan ruang agar seseorang dapat melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri.
Jangan Hanya Melihat Keterbatasannya
Pengalaman tersebut mengingatkan kita bahwa penyandang disabilitas bukan hanya seseorang yang membutuhkan bantuan. Mereka juga memiliki kemampuan, pilihan, kebiasaan, dan aktivitas yang dapat dilakukan secara mandiri.
Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang. Jangan hanya melihat keterbatasannya. Lihat juga apa yang mampu dilakukan dan pahami dukungan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Mari belajar membedakan antara membantu dan mengambil alih.
Jika seseorang mampu melakukannya sendiri, berikan ruang. Jika membutuhkan pemantauan, berikan perhatian. Jika membutuhkan bantuan, hadir dan bantu sesuai kebutuhannya.
Pada akhirnya, praktik pekerjaan sosial bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi tentang bagaimana menciptakan dukungan yang membuat seseorang tetap memiliki kesempatan untuk hidup mandiri, merasa dihargai, dan menjadi bagian dari lingkungan sosialnya.
Dengarkan tanpa menghakimi, dampingi tanpa mengambil alih, dan berikan dukungan tanpa menghilangkan kemandirian.
Penulis :
Siti Zulfa Suhailah – 250902083
Kesejahteraan Sosial, Fisip USU
Dosen : IBu Dr. Hairani Siregar, S. Sos., M. SP.

















